Mitos Dan Fakta Dibalik Lezatnya Mie Instan

0
39

Dibalik kelezatannya mie instan juga ternyata memiliki rumor tak sedap seperti mengandung lilin, pengawet dan penyedap rasa yang bisa membuat (hipertensi) darah tinggi hingga kanker.
 Apakah itu benar?  Mitos atau fakta ? Mari, cek ulasan berikut ini!

Mitos Dan Fakta Dibalik Lezatnya Mie Instan

1.Mie Instan pernah termasuk barang mewah 
Sama seperti kopi di zaman kolonial yang termasuk barang mewah, mie instan pernah termasuk barang mewah. Di negara matahari terbit (Jepang) letaknya di Prefektur Osaka pada tahun 1958, pendiri perusahaan Nissin Momofuku Ando, memproduksi 2 mie instan yakni Chicken Ramen dan Cup Noodles. Dan harganya berkisar 6 kali lipat dari harga udon yang fresh.

2.Mengandung Penyedap Rasa (MSG) pada bumbu yang menyebabkan kanker
Memasak mie instan beserta bumbu diatas 120°C menyebabkan kanker karena senyawa kimia pada bumbu berubah menjadi senyawa karsinogen yang meningkatkan risiko penyakit kanker.

Alasan mengapa mie instan tidak dimasak bersamaan dengan bumbunya karena dapat mengurangi cita rasa yang dibentuk oleh produsen. Mie instan dianjurkan untuk memiliki kuah sebanyak 400 cc, tapi seringnya kita memasak air rebusan tidak menggunakan takaran sehingga bisa saja berlebihan.
Dan juga mie instan sudah setengah matang jadi hanya perlu merebus mie instan pada suhu air mendidih, yaitu sekitar 90 – 100 derajat Celcius, dalam waktu kurang dari 5 menit.

Efek negatif MSG masih jadi perdebatan apakah menyebabkan berkurangnya daya pikir sampai menurunkan tingkat  kecerdasan seseorang. Kebanyakan mengkonsumsi vetsin juga membuat anda mengalami Chinese Restaurant Syndrome, gejalanya seperti sakit kepala dan mal-mual.

Terlepas dari kontroversi seputar bahaya penyedap rasa (MSG),  Food and Drug Administration (FDA) sudah menyatakan MSG  sebagai zat tambahan makanan yang aman digunakan. Keputusan FDA ini disepakati pula oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO), serta Kementerian Kesehatan RI.

3.Merebus 2 kali menghilangkan zat lilin dan Pewarna
“Air rebusan mie instan yang kekuningan mengandung pengawet juga mengandung zat lilin (wax) …”
Pada produksinya, mie instan melewati proses Deep Frying untuk mengurangi kadar air sekaligus membuat mie instan tetap awet. Proses ini membuat minyak terserap ke dalam adonan mie instan hingga dikeluarkan pada saat pemasakan dan membuat air rebusan menjadi keruh kekuningan. Jadi, ini menunjukkan mie instan mengandung minyak bukan disebabkan penggunaan zat lilin oleh produsen.

Warna kuning pada mie instan memang menggunakan zat pewarna dalam pembuatannya, adonan mie instan ditambahkan zat pewarna makanan, yang bernama Tatrazine (CH940). Zat pewarna ini sudah terserap dengan baik, jadi ketika direbus tidak akan larut ke dalam air.

Zat pewarna Tatrazine ini adalah senyawa pigmenfood grade itu berarti sudah diberi izin digunakan sebagai pewarna makanan secara internasional oleh Codex Alimentarius dan Badan kesehatan Dunia (WHO). Secara nasional sendiri, pewarna makanan ini juga sudah diberi izin BPOM RI.

4.Hentikan membuang air rebusan pertama pada mie instan
Menurut Prof. Dr. F.G. Winarno, kabar mengenai bahayanya air rebusan mie instan yang pertama adalah salah. Justru, di dalam air rebusan pertama itulah terdapat kandungan zat besi, zinc, vitamin, dan betakaroten ( vitamin A ) tinggi yang dibutuhkan oleh tubuhmu.
Pada proses produksinya, mie instan melalui proses fortifikasi (penambahan zat-zat gizi dan vitamin) yang diperlukan tubuh. Zat-zat gizi dan vitamin akan terlarut ke dalam air saat proses perebusan.
Maka dari itu, mulai dari sekarang  jangan membuang air rebusan mie instan dan menjadikan instan anda jadi makanan yang tidak lagi memiliki nilai gizi yang cukup. Sayang sekali, bukan?

5.Pengawet berlebihan agar tekstur mie instan tidak mudah rusak ternyata cuma mitos ?
Tidak dipungkiri, makanan dalam kemasan yang dijual di pasar swalayan pasti menggunakan pengawet supaya umurnya bisa tahan lama.

Di Indonesia, telah ditetapkan penggunaan bahan pengawet secara aman hanya 250 mg saja per kilogramnya. Untuk mie instan sendiri, penggunaan bahan pengawet nipagin pada kecapnya hanya berjumlah 1 mg saja.

Mie instan menjadi awet karena melalui proses “deep frying”. Proses penggorengan ini dilakukan pada suhu yang tinggi, yaitu 140 – 160°C. Pada suhu ini, dapat dipastikan tidak ada mikroba yang dapat bertahan hidup karena kadar air pada mie telah turun hingga 3%. Kalau tidak ada mikroba, kemungkinan pembusukan sangat kecil.