Mengenal Zat Glukosinolat dan Sulforafan Pada Sayuran

0
33

Glukosinolat merupakan metabolit sekunder yang dibentuk dari beberapa asam amino secara umum terdapat pada Cruciferae (Brassicaceae).

Glukosinolat dikelompokkan 3 kelompok, yakni:

  • Glukosinolat alifatik (contoh: sinigrin), terbentuk dari asam amino alifatik (biasanya metionin), 
  • Glukosinolat aromatik (contoh: sinalbin), terbentuk dari asam amino aromatik (fenilalanin atau tirosin)
  • Glukosinolat indol, yang terbentuk dari asam amino indol (triptofan). 

Glukosinolat adalah zat anti gizi yang terdapat pada tumbuhan (family brassicaceae) seperti kubis dan sawi. Senyawa ini digunakan sebagai pertahanan tumbuhan terhadap serangan hama pemakan daun. Zat ini dapat menimbulkan efek keracunan pada hama yang belum mengembangkan resistensi (kekebalan) pada glukosinolat.

Jika anda sering mengkonsumsi makanan mentah yang mengandung glukosinolat (kubis dan sawi) anda akan mengalami penyakit gondok (pembesaran kelenjar tiroid). Disebabkan glukosinolat dalam sistem pencernaan manusia dapat menghambat penyerapan iodium (iodine) pada usus halus.

Kekurangan iodium akan menyebabkan ketidakmampuan tubuh membentuk hormon tiroksin dalam jumlah cukup. Akibatnya kelenjar tiroid sebagai pabrik tiroksin akan memperbesar jaringannya agar mampu menghasilkan lebih banyak insulin. Kekurangan iodium secara terus menerus akan menyebabkan kelenjar tiroid terus membesar dan mengakibatkan munculnya gondok di leher.

Glukosinolat merupakan molekul yang dibentuk dari protein dan karbohidrat. Zat tersebut bersifat hidrofilik (dapat larut air), sehingga glukosinolat akan tertinggal pada hasil rendaman kubis dan sawi. Pemanasan sempurna bahan makanan akan merusak glukosinolat karena protein akan terdenaturasi ketika dipanaskan. Kubis dan sawi yang telah dimasak akan lebih aman untuk dikonsumsi karena pemanasan menghilangkan efek negatif dari glukosinolat.

Sulforafan,  (R)-1-isotiosiano-4-metil-sulfonil butana,
Sulforafan dalam tanaman berikatan dengan molekul gula menjadi glukosinolat. Setelah dimakan sulforafan akan terpisah dari molekul gula.

Sulforafan glukosinolat ditemukan pada sayuran sawi-sawian (Cruciferae), seperti brokoli, kubis, bunga kol, turnip, lobak, sawi dan petsai.

Sulforafan menginduksi terbentuknya phase 2 enzyme, dengan demikian karsinogen dapat dinetralisasi sebelum menghancurkan DNA dan juga menghambat perubahan formasi benzo-a-pyrene-DNA dan 1,6-dinitropyrene-DNA.

Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa orang yang banyak memakan sayuran sawi-sawian terindikasi dapat mengurangi risiko terkena kanker. Uji terhadap hewan menunjukkan, konsumsi sayuran sawi-sawian mengurangi frekuensi, ukuran, dan jumlah sel tumor.

Penelitian yang dilakukan Tokyo University of Agriculture menunjukkan bahwa orang yang memakan 100 gram kecambah brokoli setiap hari selama satu minggu, kadar kolesterol dalam darahnya berkurang.

Brokoli mengandung glukosinolat, yang dapat memperlambat pemecahan neurotransmiter dan asetilkolin.

Neurotransmiter dan asetilkolin diperlukan oleh sistem saraf pusat untuk berfungsi dengan baik dan menjaga otak serta daya ingat. Kadar asetilkolin yang rendah dalam otak berkaitan dengan penyakit Alzheimer.

Penelitian yang dipublikasikan  Oxidative Medicine and Cellular Longevity pada tahun 2015, Sulforaphane memiliki sifat anti radang yang dapat membantu melindungi tubuh dari hipertensi, ateroskelosis, stroke, dan penyakit jantung. Sulforaphane berfungsi sebagai antioksidan dan membantu menurunkan tekanan darah.

referensi :
Wikipedia
hanahunafaajah.blogspot.com metabolit sekunder