Kecanduan Bermain Game dan Hubungannya Dengan gangguan Mental

0
24
Bermain Game dan Hubungannya Dengan gangguan Mental
Bermain Game dan Hubungannya Dengan gangguan Mental

Aktivitas populer yang dilakukan saat waktu luang  yang menjadi candu apalagi kalau bukan bermain game, mulai dari game konsol sampai game online.Menjadi salah satu hiburan bahkan hobi dari Generasi Milenial tentu berdampak positif jika dilakukan secara tidak berlebihan, tapi lain halnya jika dimainkan setiap hari dengan durasi waktu yang lama bahkan bisa mengakibatkan kesehatan juga terganggu bahkan sampai dianggap mengidap gangguan mental. Benarkah seperti itu? Mari kita kupas satu persatu pendapat para pakar tentang relasi antara kecanduan game dan Gangguan mental.

Menurut jurnal Psychological Bulletin pada tanggal 27 November 2017, video game khususnya game aksi dapat meningkatkan kemampuan kognitif pada anak persepsi, atensi dan waktu reaksi.
Tapi jika aktivitas tersebut memiliki kecenderungan dilakukan terus menerus (obsesi) maka akan mengakibatkan gangguan mental seperti yang dikutip dari World Health Organization (WHO) pada hari Senin 18 Juni 2018,  menambahkan kecanduan game ke dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases (ICD).

ICD adalah sistem yang berisi daftar penyakit berikut gejala, tanda, dan penyebab yang dikeluarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Untuk Kecanduan game, WHO memasukkannya ke daftar “disorders due to addictive behavior” atau penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan.

Menurut Science Alert, seseorang bisa dianggap kecanduaan game jika memenuhi 3 kriteria :

1.Tidak bisa mengendalikan kebiasaan bermain game. 
Seperti kasus 2014 seorang wanita dari China berumur 27 tahun meninggal akibat bermain game tanpa henti selama 10 jam akibatnya meninggal dunia ini diakibatkan aktivitas game membuat pemainnya terlalu menikmati dan lupa waktu sehingga lupa untuk istirahat dan makan akibatnya tubuh menjadi kelelahan hingga dehidrasi.

2.Mulai memprioritaskan game di atas kegiatan lain.
Satu tahun kemudian di Rusia, seorang gadis dari koma setelah bermain game selama 22 hari tanpa tidur dan makan. Secara logika jika manusia tidak makan selama 3 minggu maka tubuh akan terus mencari sumber protein  dan mengorbankan jaringan dan organ tubuh (kanibalisme). Penyakit yang diderita ada 2  yakni maramus (malnutrisi ekstrem) dan kwashiorkor (kekurangan gizi). Keduanya menyebabkan kelelahan, edema, dan penurunan massa otot.

Dikutip dari sciencealert.com, seorang ahli saraf dari Marche Polytechnic University dari Italia Michele Bellesi, telah memeriksa respons otak mamalia terhadap kebiasaan tidur yang tidak cukup.
Pada neuron otak ada sel yang disebut sel mikroglial. Sel mikroglial bertanggungjawab untuk membersihkan sisa-sisa aktivitas kita di sel-sel otak. Setelah itu, sel astrosit bertugas memangkas sinapsis (tempat neuron saling bertemu) yang tidak perlu lalu menyegarkan dan membentuk kembali.

Ketika kita tidur, maka sel mikroglial dan sel astrosit akan melakukan proses kerjanya. Layaknya sampah yang dibersihkan saat kita sedang tidur. Namun, jika kita tidak mendapat cukup tidur, maka sinapsis akan melukai otak kita sendiri.

“Kami melihatnya bahwa ia (sinapsis) benar-benar memakan sel lain karena tidak tidur teratur,” kata Bellesi.
Jika anda bisa bertahan pada stadium akhir kelaparan maka tubuh akan menjadi mayat hidup (keadaan vegetatif)  fungsi biologisnya sebagai manusia masih bekerja baik, namun otak Anda secara umum tidak berfungsi lagi dan berakhir dengan kematian.

3.Terus bermain game meski ada konsekuensi negatif yang jelas terlihat.
Untuk yang satu ini semua kembali kepada pribadi masing-masing menimbang baik dan buruknya suatu kegiatan atau aktivitas yang memang tidak baik dilakukan secara berlebihan
Ketiga hal ini harus terjadi atau terlihat selama satu tahun sebelum diagnosis dibuat baru dianggap mengidap gangguan mental.

“Bermain game disebut sebagai gangguan mental hanya apabila permainan itu mengganggu atau merusak kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pekerjaan, dan pendidikan,” (WHO).